Pemberontak yang kesepian

09/07/2010

Semsar Seniman Pemberontak Yang Kesepian

Oleh : Suhunan Situmorang

TANGANNYA begitu cepat menyendok makanan ke mulutnya. Tak terkesan lahap atau karena remasan lapar. Mungkin begitulah caranya makan, atau karena merasa sudah terlambat mengikuti hajatan sastrawan Sitor Situmorang yang berulangtahun ke-80 di sebuah ruang pameran TIM itu. Malam itu, 2 Oktober 2004, sambil makan, kami membincangkan banyak hal, terutama tema yang diusungnya dalam pameran karya-karya terbarunya di Galeri Nasional.

Ia belum berobah, tetap berselubung misteri. Sejak Juni 1994, kali pertama mengenal dirinya di sebuah diskusi gelap, kesanku pada lelaki separuh baya ini masih sama: dingin, angker, garang, pemarah, teguh bak batu karang, penuh misteri, walau hatinya tulus menjalani relasi sosial, dan humanis. Bedanya, malam itu, kulihat wajahnya kusut-masai, rambutnya semakin memutih, dan… agak aneh: bola matanya kuning. Yang kutahu, mata seperti itu lazim terjadi pada pengidap penyakit kuning atau hepatitis. Namun, demi etika pergaulan, tak saya tanyakan.

Bicaranya tetap lugas, dan lantak. Ia meminta agar saya tak ikut merokok di ruangan berpendingin udara seadanya itu, seraya mengecam beberapa pengunjung yang tak mengacuhkan larangan merokok. “Itu merugikan kesehatan orang lain,” ujarnya tegas.

Selain menyinggung pameran karyanya yang meledek dan mengecam G-8 di Galeri Baca entri selengkapnya »


Kau Berarti Bagiku

09/07/2010

“Seakan aku merasa tak berarti lagi dihadapanmu”
“Semua itu hanya perasaan kamu aj kok dek” jawabku saat Rani mengatakan hal itu padaku.
Memang hubungan kami sebagai sepasang kekasih yang akrab disebut (Pacar) belum lah lama.
Pertama-tama aku kenalan dengan Rani, perasaan cinta memang tak ada untuknya. Namun setelah kami jalani beberapa bulan, ternyata Rani mampu membuat aku untuk mencintainya. Bahkan sampai saat ini, aku tak pernah bisa untuk berpaling darinya. Dengan wajahnya yang sederhana, tutur kalimatnya juga tak begitu banyak. Hal itu membuat aku merasa senang bersamanya. Aku tak tahu, pertama kami kenalan, apakah Rani mencintaiku? Namun sebagai manusia yang selalu mencari alasan berbuat sesuatu, hal itu sangat mustahil. Oleh karena itu, menurut pribadi saya, mencintai seseorang bukanlah dari pandangan pertama yang sering dibilang orang, bahkan melantunkan lagu-lagu “Pada Pandangan Pertama”. Tapi buat aku, cinta itu lahir saat kita mengenal betul karakter kepada siapa cinta yang akan kita berikan.
Setelah kami menjalani hubungan (Pacaran), Rani pernah jatuh sakit, dan pada saat itu aku masih kuliah, dan Rani belum bekerja. Dengan rasa prihatin melihat keadaanya saat itu, aku mencoba menjadi seorang lelaki yang benar-benar mencintainya. Sampai-sampai aku meninggalkan Kuliah demi memperhatikan dia. Maklum, Rani hanya tinggal dengan sendirian disalah satu rumah kontrakan di kota itu. Keluarga ranipun tak ada yang dekat, sehingga dia sangat membutuhkan aku saat itu.
“Kamu gak kuliah….?” Tanya Rani dari ranjang dimana dia terbaring……
Namun aku hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Rani yang terlihat Pucat. Dan aku yakin Rani pasti tak butuh pertolonganku jika harus mengorbankan sesuatu yang berharga.
“Kamu gak kuliah……?” Tanya Rani kembali sambil memegang ibu jariku yang panjang kuku itu.
“Aku kuliah, tapi uda pulang” jawabku singkat sambil memandangnya…
“Biasanya kamu kan pulang kuliah bukan jam segini, kok cepat banget?” ujar Rani penasaran…. Tiba-tiba HPku berbunyi, menerima sebuah pesan dari teman sekampus.
“Ada dimana bang……? Kenapa gak masuk tadi?” isi smsnya….. tanpa menjawabnya, aku langsung mengantongi HP tersebut. Namun saking penasaranya, Rani meminta HP itu dari saya. Tanpa berfikir, akupun langsung memberinya. Karena katanya dia mau sms abangnya yang ada di kota itu.
“Baca dulu pesan ini…..!” Tiba-tiba pinta Rani sambil memandangku dengan tajam. Tapi aku hanya terdiam, karena yang dia tunjukkan itu adalah pesan yang baru saja datang dari temanku.
“Udalah, gak usah kau pikirkan tentang itu, yang jelas kamu sembuh, masalah itu bisalah nanti kuperbaiki” jawabku dengan bujuk sambil membelai rambutnya yang sudah 3 hari gak di kasih shampo.
Namun mendengar jawabanku itu Rani hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Seakan aku merasa menambah beban penyakitnya saat itu. Sambil memejamkan mata, ia ngomong “Lebih baik aku ditungguin teman disini, daripada kamu gak ke kampus” kata Rani sambil memejamkan mata.
“Lebih baik aku gak kuliah daripada kamu sakit” balasku singkat……. Lalu Rani langsung membuka matanya dengan cepat dan memandangku lagi penuh dengan amarah.
“Lebih baik kamu pulang aja deh……!” pinta rani sambil memalingkan pandanganya dari aku. Namun aku tetap membujuknya agar Rani tetap berada di sampingku.
Setelah beberapa bulan kemudian, Rani sudah sembuh dari penyakit yang ia alami. Dan ia sudah bekerja di salah satu perusahaan. Kebetulan beberapa waktu lalu, disuatu malam ada seorang teman saya bercerita-cerita tentang pekerjaanya. Bahwa perusahan mereka membutuhkan tenaga kerja bagian Administrasi kalau gak salah waktu itu. Kebetulan Rani sangat cocok dengan posisi tersebut, aku pun SMS Rani malam itu juga. Dan Rani pun bersedia untuk bekerja disana. Tanpa banyak neko-neko dipastikan bahwa Rani pasti masuk kerja. Dengan hati senang, saya tertawa bahak dalam hati setelah mendengar pengakuan tersebut. Dan aku mengucapkan banyak terimakasih kepada temanku. Karena dia sudah sangat membantu banget.
Setelah Rani bekerja, saya mencoba agar tidak mengganggu dia lagi. Aku takut pekerjaanya terganggu karena aku. Dan saya melanjutkan niat untuk menyudahi hubungan kami sementara, agar dia tidak bersusah payah untuk membagi waktunya dengan saya dan juga kerjaan. Aku yakin pasti Rani selalu member waktu buat aku, walaupun dia sudah bekerja.
Tapi disaat aku sampaikan hal itu smaa Rani, Rani malah bilang kalau aku gak mempedulikan dia. Bahkan aku tidak mencintai dia lagi katanya. Padahal maksud saya melakukan hal itu demi kelancaran pekerjaan dia. Dan aku ingin focus melanjutkan “apa yang aku inginkan”. Padahal, di lubuk hati yang paling dalam, tak ingin berpaling darinya. Adapun yang banyak melebihi penampilanya yang sederhana itu, tak mampu membuat hati yang sudah terpupuk, dan akar-akarnya telah mengalir dan tumbuh begitu megah.
Kamu Tak Akan Bisa Terganti, biar kamu Jelek, tapi kamulah yang terindah bagiku…..
Walaupun “mungkin” dia tak dapat membaca tulisan ini disini, tapi kira-kira seperti itulah singkat curhatku tentang dia.


Tabrak Lari

09/07/2010

6 tahun lamanaya perjalanan cinta dengan jarak jauh akhirnya menghasilkan sebuah kecelakaan yang sangat mengerikan.
Pegol merantau ke daerah Pulau Jawa sejak tahun 2001 setelah ia lulus dari salah satu Sekolah Lanjutan Tinggkat Atas. Sedangkan Rohana masih berada di kampung bersama dengan orang tuanya. Adapun alasan Rohana tinggal dikampung, karena ibu yang ia cintai sedang sakit dan butuh pertolongan untuk menjaga ibunya tercintanya. Sedangkan Ayah Rohana sejak 5 tahun silam sudah meninggal diserang penyakit yang secara tiba-tiba saja. Oleh sebab itu Rohana harus bersama orang tuanya yang tinggal satu-satunya. Sedangkan Uli dan Dapotan kakak dan abang Rohana sudah pergi merantau. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.